Candi Borobudur adalah salah satu warisan budaya paling terkenal di Indonesia dan bahkan di dunia. Terletak di Magelang, Jawa Tengah, candi ini merupakan monumen Buddha terbesar di dunia dan menjadi salah satu tujuan wisata yang wajib dikunjungi. Namun, tahukah kamu tentang sejarah panjang Borobudur dan bagaimana perkembangannya dari masa ke masa? Artikel ini akan membahas sejarah singkat Borobudur, proses pemugarannya, hingga kondisi dan fungsinya saat ini.
Sejarah Singkat Candi Borobudur
Borobudur dibangun pada masa Dinasti Syailendra, sekitar abad ke-8 hingga ke-9 Masehi. Candi ini diperkirakan dibangun di bawah pemerintahan Raja Samaratungga, seorang raja dari Kerajaan Mataram Kuno yang beragama Buddha Mahayana. Proses pembangunan Candi Borobudur membutuhkan waktu sekitar 75 hingga 100 tahun hingga selesai sepenuhnya.
Candi ini dibangun menggunakan sekitar dua juta blok batu andesit yang disusun tanpa perekat, tetapi dengan teknik interlocking yang membuatnya kokoh. Struktur Borobudur terdiri dari sembilan tingkat, enam tingkat berbentuk bujur sangkar di bagian bawah, dan tiga tingkat berbentuk lingkaran di bagian atas. Di puncaknya, terdapat sebuah stupa besar yang menjadi simbol kesempurnaan.
Borobudur tidak hanya menjadi tempat ibadah bagi umat Buddha tetapi juga sebuah representasi ajaran Buddha tentang perjalanan manusia dari dunia fana menuju pencerahan dan kebijaksanaan tertinggi.
Masa Penelantaran dan Penemuan Kembali
Setelah masa kejayaannya, Borobudur mengalami masa penelantaran. Pada abad ke-14, dengan menyebarnya agama Islam di Jawa, Candi Borobudur mulai ditinggalkan dan terlupakan. Candi ini bahkan tertimbun oleh abu vulkanik dari letusan Gunung Merapi dan tertutup oleh rimbunnya vegetasi selama berabad-abad.
Borobudur baru ditemukan kembali pada tahun 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris yang saat itu berkuasa di Jawa. Raffles mendengar cerita tentang sebuah candi besar yang tertutup hutan dan mengutus seorang insinyur Belanda bernama H.C. Cornelius untuk membersihkannya. Meskipun saat itu hanya sebagian kecil dari candi yang ditemukan, penemuan ini menjadi awal dari perhatian dunia terhadap Borobudur.
Pemugaran dan Restorasi Borobudur
Setelah ditemukan kembali, Candi Borobudur mengalami beberapa kali pemugaran untuk mengembalikan keindahannya. Salah satu pemugaran besar pertama dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1907 hingga 1911 di bawah bimbingan Theodoor van Erp. Restorasi ini berfokus pada memperbaiki struktur candi yang sudah rusak dan membersihkan relief-relief candi.
Pemugaran besar lainnya dilakukan oleh pemerintah Indonesia dengan bantuan UNESCO pada tahun 1973 hingga 1983. Proyek ini merupakan salah satu proyek restorasi terbesar dan termahal di dunia pada masanya, menelan biaya sekitar 6,9 juta dolar AS. Proyek ini berhasil mengembalikan Candi Borobudur ke bentuk yang lebih kokoh dan aman dari ancaman kerusakan lebih lanjut.
Borobudur di Era Modern
Saat ini, Candi Borobudur tidak hanya menjadi situs warisan budaya yang dilindungi, tetapi juga menjadi pusat kegiatan keagamaan, wisata, dan pendidikan. Pada tahun 1991, Borobudur diakui sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO, yang menandakan pentingnya candi ini bagi sejarah dan budaya dunia.
Borobudur juga menjadi pusat perayaan Waisak setiap tahunnya, di mana umat Buddha dari seluruh dunia berkumpul untuk merayakan hari kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Buddha Gautama. Acara ini biasanya ditandai dengan pelepasan lampion yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.
Selain itu, Borobudur juga telah berfungsi sebagai pusat penelitian arkeologi dan sejarah. Banyak peneliti dan sejarawan yang terus mempelajari relief dan arsitektur Borobudur untuk memahami lebih dalam tentang kehidupan, agama, dan budaya masyarakat pada masa lampau.
Informasi Penting untuk Pengunjung
Bagi kamu yang ingin mengunjungi Candi Borobudur, candi ini dibuka setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 17.00 WIB. Tiket masuk untuk wisatawan domestik biasanya berkisar antara Rp 50.000 hingga Rp 75.000 untuk dewasa, dan Rp 25.000 untuk anak-anak. Sementara itu, untuk wisatawan mancanegara, harga tiket berkisar sekitar 25 USD.
Pengunjung juga diimbau untuk menjaga kebersihan, tidak memanjat stupa, dan mengikuti aturan yang berlaku di area candi demi menjaga kelestarian Borobudur.
Penutup
Borobudur adalah bukti kekayaan budaya dan sejarah Indonesia yang luar biasa. Dari masa kejayaannya, masa penelantaran, hingga pemugarannya yang spektakuler, Borobudur terus menjadi simbol kebesaran peradaban kuno yang tak lekang oleh waktu. Sebagai salah satu ikon pariwisata Indonesia, Candi Borobudur tidak hanya menawarkan keindahan arsitektur, tetapi juga membawa kita untuk merenungkan perjalanan spiritual yang mendalam.
Selamat mengunjungi dan merasakan keagungan Candi Borobudur!
